Sejumlah Indikator Memburuk, Pertumbuhan Ekonomi Bisa Anjlok di Bawah 5%

Ilustrasi - Buruh pabrik rokok di Mojokerto, Jawa Timur. (Dok. Diskominfo Kabupaten Mojokerto)
FAKTA.COM, Jakarta – Samuel Sekuritas Indonesia (SSI) soroti sejumlah indikator perekonomian yang memburuk. Bahkan, pihaknya menilai imbas dari hal tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa merosot di bawah lima persen.
Indikator pertama yang disoroti SSI adalah Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang semakin merosot.
Pada Maret lalu, IKK dicatatkan sebesar 121,1. Meskipun Bank Indonesia (BI) menilai catatan ini masih baik, faktanya ini sudah bulan ketiga IKK mengalami kontraksi. Bahkan, angka tersebut merupakan yang terendah sejak Oktober tahun lalu.
Ekonom Senior SSI, Fithra Faisal Hastiadi melihat fenomena ini sebagai indikasi tekanan daya beli yang semakin besar. Terlebih, di tengah lonjakan angka PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) yang sejak tahun lalu hingga Februari tahun ini dicatatkan sekitar 90.000-an pekerja.
Meski hampir semua subkomponen IKK mengalami kontraksi, hal yang paling disoroti oleh Fithra adalah indeks ekspektasi ketersediaan lapangan kerja yang merosot hingga 8,3 poin, yakni menjadi 125,9. Begitu juga dengan indeks ketersediaan lapangan kerja yang merosot 5,9 poin.
“Hal ini mengindikasikan peningkatan pesimisme dalam ketersediaan lapangan kerja,” imbuh Fithra.
Hemat Fithra, tekanan pada keyakinan konsumen ini bisa berimplikasi pada risiko yang signifikan terhadap konsumsi domestik. Padahal, struktur pembentuk Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia masih didominasi oleh konsumsi rumah tangga, yakni sekitar 54 persen.
Indikator kedua adalah tingkat inflasi yang masih berada di level moderat. Bahkan, dalam 12 bulan terakhir, rata-rata inflasi hanya sebesar 1,75 persen saja. Jika dilihat pun, data menunjukkan tren inflasi yang cenderung menurun.
Di sisi lain, Rupiah masih penuh tekanan dan Indonesia juga dihadapkan dengan stagnasi upah riil. Walhasil, kondisi ini berpotensi membuat konsumsi terutama ke sektor retail melambat.
“Sentimen yang melemah dapat mendorong pergeseran perilaku rumah tangga ke arah tabungan untuk berjaga-jaga, yang selanjutnya akan menekan aktivitas ritel dan jasa,” jelas Fithra.
Menurut Fithra, hal tersebut akan memberikan pukulan signifikan bagi perekonomian Indonesia. Sebab, motor penggerak utama ekonomi Tanah Air adalah konsumsi domestik.
“Jika daya beli terus melemah, bisnis yang bergantung pada permintaan domestik-seperti ritel, barang konsumsi, dan jasa mungkin akan menghadapi pertumbuhan yang lebih lambat. Oleh karena itu kami melihat adanya risiko penurunan terhadap pertumbuhan PDB di bawah 5 persen tahun ini,” pungkas Fithra.

Infografis Survei Konsumen Maret 2025. (Dok. Bank Indonesia)













