RI-Turki Dorong Perluasan Kerja Sama Perdagangan Merespon Tarif Trump

Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto dalam Turkiye-Indonesia CEO Roundtable Meeting di Ankara, Turki, Jumat (11/4/2025). (Dok. Kemenko Perekonomian)
FAKTA.COM, Ankara – Di tengah ancaman tarif dagang Amerika Serikat (AS) yang kian memanas, Indonesia berniat memperluas kerja sama dengan Turki. Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto dalam Turkiye-Indonesia CEO Roundtable Meeting di Ankara, Turki, Jumat (11/4/2025).
Airlangga memandang, kerja sama perdagangan Indonesia dan Turki memiliki prospek yang cerah. Pemerintah melihat Turki sebagai hub untuk masuk ke pasar Eropa, terlebih dalam mendorong percepatan penyelesaian IU CEPA (Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement).
Begitu juga sebaliknya, Turki pun memandang Indonesia sebagai hub untuk masuk ke pasar ASEAN. Oleh sebab itu, upaya perluasan kerja sama menjadi hal yang relevan. Terlebih, di tengah situasi perang dagang yang semakin memanas.
"Indonesia dan Turki perlu memperkuat kerja sama ekonomi serta melihat potensi yang masih sangat besar antara kedua negara, di tengah ketidakpastian global dan tren proteksionisme yang baru saja dilakukan oleh Amerika Serikat," ujar Airlangga.
Data menunjukkan dalam lima tahun terakhir (2020-2024), ekspor nonmigas Indonesia ke Turki cenderung meningkat. Dalam periode itu, angka peningkatannya bahkan menyentuh dua digit, yakni 12,6 persen.
Sepanjang tahun lalu saja, ekspor nonmigas ke Turki dicatatkan sebesar US$1.937,8 juta. Atas catatan ini, ekspor nonmigas ke Turki meningkat 25,97 persen secara tahunan (yoy).
Begitu juga dengan impor Indonesia dari Turki. Data menunjukkan dalam lima tahun terakhir, impor nonmigas Indonesia asal Turki tumbuh hingga 13,82 persen.
Meskipun sepanjang tahun lalu, impor nonmigas RI asal Turki terkontaksi hingga 10,68 persen (yoy) dengan total impor sebesar US$461,1 juta, tetapi jika ditarik pada horizon waktu yang lebih panjang, angkanya tetap tumbuh positif. Bahkan, mencatatkan pertumbuhan dua digit.
“Ada potensi produk pertanian Turki untuk bisa masuk ke pasar Indonesia, dan sebaliknya Turki juga terbuka terhadap ekspor produk pertanian dan kehutanan Indonesia ke pasar Turki," jelas Menteri Pertanian dan Kehutanan Turki, Ibrahim Yukmali.
Secara keseluruhan, sepanjang tahun lalu nilai perdagangan kedua negara ini dicatat sekitar US$2,4 miliar. Adapun usai pertemuan tersebut, kerja sama perdagangan didorong lebih luas dengan target mencapai US$10 miliar.













