Rupiah Tertekan, Trump 2.0 Bikin Panik: Emas Kembali Jadi Safe Haven

Ilustrasi - Logam mulia maupun emas Antam. (Dok. Logam Mulia)
FAKTA.COM, Jakarta – Dalam beberapa waktu terakhir, minat masyarakat terhadap pembelian emas mengalami peningkatan yang signifikan. Fenomena ini mencerminkan meningkatnya kesadaran akan pentingnya melindungi nilai kekayaan di tengah ketidakpastian ekonomi dan fluktuasi harga global.
Emas kembali menegaskan posisinya sebagai aset lindung (safe haven), terutama di tengah lonjakan harga dan kekhawatiran masyarakat terhadap prospek kondisi finansial ke depan.
Laporan terbaru DBS, "CIO Insights 2Q25: Key Investment Takeaways", turut menyoroti peran strategis emas sebagai instrumen lindung nilai di masa ketidakpastian global.
External Communications Group Strategic Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia, Rifka Suryandari, menyebutkan bahwa tren kenaikan harga emas merupakan respons atas gejolak geopolitik dan kebijakan ekonomi yang agresif di bawah pemerintahan Trump 2.0 di Amerika Serikat.
"Harga emas melonjak karena ketidakpastian di bawah Trump 2.0 terus mendorong permintaan terhadap aset aman dalam jangka pendek," tulis Rifka dalam laporan DBS pada Kamis (10/4/2025).

Tangkapan layar - Perkembangan harga emas enam bulan terakhir. (Dok. Logam Mulia)
Selain faktor jangka pendek, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal AS serta meningkatnya risiko de-Dolarisasi juga menjadi pendorong kenaikan harga emas dalam jangka menengah hingga panjang.
Emas dinilai tetap memiliki prospek cerah, terlepas dari arah kebijakan yang tengah ditempuh saat ini.
"Pemotongan pajak dan deregulasi hanya akan memperparah kekhawatiran jangka panjang tentang pelemahan nilai mata uang AS, sementara gelombang tarif dan kejutan kebijakan akan mendorong imbal hasil obligasi turun serta memicu pelarian ke aset aman seperti emas," tambah Rifka.
Risiko pelemahan Dolar AS ini, menurut Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Telisa Aulia Falianty, mendorong pergeseran preferensi aset aman ke arah emas.
“Karena Dolar saat ini sedang tidak stabil, ditambah situasi di Amerika yang juga belum pasti. Kebetulan setelah Lebaran masih ada dana tersisa, jadi banyak yang memanfaatkan momentum ini,” jelas Telisa dihubungi Fakta.com pada Jumat (11/4/2025).
Faktor lain datang dari melemahnya nilai tukar Rupiah. Mata uang Rupiah sempat menyentuh level Rp17.051 per Dolar AS pada 9 April 2025. Telisa menilai kondisi ini menimbulkan rasa krisis di tengah masyarakat.
“Padahal kalau dibandingkan dengan krisis 1998, depresiasi Rupiah sekarang tidak sebesar dulu. Saat itu, nilai tukar melompat dari Rp2.550 ke Rp17.000, sedangkan saat ini hanya dari kisaran Rp15.000 ke Rp16.000,” ungkapnya.
Selain itu, emas juga dinilai sebagai salah satu instrumen pelindung kekayaan. Peneliti Senior Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS), Etikah Karyani, menyatakan bahwa secara historis, emas cenderung stabil bahkan menguat nilainya.
“Di tengah ketidakpastian, terlebih dengan pasar saham yang semakin fluktuatif, emas dianggap sebagai store of value,” ujar Etikah pada Jumat (11/4/2025).
Fenomena antrian pembelian emas pun muncul, memicu efek herding atau kecenderungan masyarakat untuk ikut-ikutan karena merasa takut tertinggal, meskipun belum benar-benar memahami tren pasar.
Meski begitu, fenomena ini bukan terjadi tanpa alasan. Berdasarkan penelitiannya, Telisa menilai saat ini masih terbatas alternatif safe haven selain emas.
Sempat muncul harapan bahwa mata uang seperti Euro, Yen, atau Yuan bisa menjadi alternatif aset aman menggantikan Dolar AS. Namun, seiring waktu, instrumen ini memiliki kelemahan masing-masing.













