Fakta.com
    !
FOCUS
FOCUS
Fakta.com
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
Fakta
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
Interactive
Games
Video
Log In
  1. Home
  2. ekonomi
  3. Ironi Manufaktur Tumbuh, Kemam...

Ironi Manufaktur Tumbuh, Kemampuan Ekspor Lemah

Ilustrasi - Pabrik otomotif. (Freepik)

Ilustrasi - Pabrik otomotif. (Freepik)

Google News Image

FAKTA.COM, Jakarta – Aktivitas manufaktur Indonesia terus menunjukkan performa positif di tengah dinamika perekonomian global. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Maret 2025 tercatat di level 52,4, melanjutkan tren ekspansi yang konsisten sejak Desember 2024.


Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu, menyebut ekspansi ini didorong oleh peningkatan permintaan domestik selama Ramadan dan Idulfitri, serta membaiknya permintaan ekspor.

“Aktivitas manufaktur yang terus ekspansif didorong pertumbuhan produksi yang berlanjut dalam beberapa bulan terakhir, baik akibat peningkatan permintaan domestik selama bulan Ramadan dan Idulfitri maupun permintaan ekspor,” ujar Febrio dalam rilis tertulisnya pada Selasa (8/4/2025).

Selain itu, anak buah Sri Mulyani tersebut juga menyampaikan optimisme terhadap prospek ekonomi ke depan juga menjadi pendorong.

Sebab sejumlah negara mitra dagang utama Indonesia juga mencatat tren serupa. Tiongkok (51,2), India (58,1), dan Amerika Serikat (50,2) semuanya menunjukkan aktivitas manufaktur yang ekspansif.

Catatan tersebut memberikan dorongan tambahan bagi ekspor Indonesia serta memperkuat posisi negara dalam lanskap perdagangan global.

Namun, di balik capaian tersebut, kondisi manufaktur pada sektor padat karya cukup rentan menghadapi tekanan.

Bila dibandingkan dengan periode sebelum pandemi (2018–2020), kontribusi sektor manufaktur saat ini masih belum kembali ke level tertinggi yang pernah mencapai hampir 20 persen.

Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik dari UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, menilai bahwa keberlanjutan ekspansi ini perlu dikawal dengan langkah-langkah perbaikan struktural.

“Namun, mengakui kekuatan saja tidak cukup. Indonesia juga harus secara jujur mengidentifikasi dan mengatasi kelemahan struktural yang dapat menggerus daya tawarnya,” tegas Achmad dalam keterangan tertulisnya yang diterima Fakta.com pada Senin (7/4/2025).

Salah satu kelemahan tersebut ialah tingginya ketergantungan Indonesia pada ekspor produk manufaktur padat karya tradisional seperti tekstil, alas kaki, dan furnitur ke pasar Amerika Serikat. Jumlah perdagangan ketiga sektor ini mencapai sekitar 32 persen dari total ekspor non-migas.

Produk-produk ini dinilai rentan tergeser oleh negara pesaing seperti Vietnam, Bangladesh, atau Meksiko, yang memiliki keunggulan dalam hal insentif investasi dan akses perdagangan.

“Meski sebenarnya industri TPT dan alas kaki Indonesia sudah lama kalah bersaing karena gempuran impor dari China,” tandasnya.

Data Purchasing Managers’ Index (PMI) global per April 2024. (Dok. S&P Global)

Data Purchasing Managers’ Index (PMI) global per April 2024. (Dok. S&P Global)


Bagikan:
Purchasing Managers' Indexbadan kebijakan fiskalkemenkeuekspor
Loading...
ADS

Update News

Trending