Trading Halt Masih Bayangi Pasar, IHSG Anjlok Tak Hanya Soal Sentimen Global

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok dalam pembukaan perdagangan setelah libur lebaran di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (8/4/2025). (Fakta.com/Kania Hani Musyaroh)
FAKTA.COM, Jakarta – Pada pembukaan perdagangan setelah libur panjang lebaran, Selasa (8/4/2025), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 7,90 persen atau 514,47 poin menyentuh level 5.996.
IHSG bahkan sempat terperosok sebesar 9 persen hingga memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt). Tentu, hal ini menyebabkan kekhawatiran besar di kalangan pelaku pasar.
Namun, benarkah pelemahan IHSG ini hanya disebabkan oleh sentimen global akan kebijakan tarif resiprokal yang ditetapkan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump?
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji, mengamini pelemahan ini dipicu oleh kekhawatiran global terhadap kebijakan ekonomi Presiden Trump, yang menetapkan tarif resiprokal terhadap berbagai negara mitra dagang. Ia menyebut kebijakan ini dikhawatirkan memicu retaliasi dan memperbesar risiko resesi global.
“Liberation Day ala Donald Trump ini, yang memang dia juga merupakan bagian dari make first policy ya, itu sebenarnya justru menciptakan panic selling secara global dan apalagi kan kebijakan resiprokal tarif tersebut kan sudah dibalas oleh negara-negara yang retaliate, contohnya saja Tiongkok, seperti itu,” jelas dia.
Sementara itu, Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, menyebut bahwa jatuhnya IHSG ini bukan semata soal gejolak global seperti efek resiprokal tarif yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump.
Ia menilai penyebabnya tidak hanya terletak pada guncangan global, tetapi pada kerapuhan struktural pasar keuangan Indonesia dan sikap reaktif otoritas yang abai membangun ketahanan sistemik.
Menurutnya, penurunan IHSG yang berlebihan ini bisa jadi merupakan manifestasi dari kombinasi berbagai faktor internal yang membuat pasar kita lebih rentan terhadap guncangan.
Salah satu faktor yang perlu dicermati adalah komposisi investor di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dominasi investor ritel yang cenderung lebih mudah panik dan mengikuti sentimen jangka pendek, ditambah dengan porsi investor asing yang signifikan dengan aliran dana bersifat hot money (mudah masuk dan keluar) sehingga menciptakan struktur pasar yang kurang stabil.
“Ketika sentimen global memburuk, investor asing cenderung menarik dananya (capital outflow) dari pasar negara berkembang yang dianggap lebih berisiko. Sementara investor ritel lokal ikut panik menjual (panic selling), menciptakan efek bola salju yang menekan indeks secara drastis,” jelasnya.
Ia menyebut ini berbeda dengan pasar lain yang memiliki basis investor institusional domestik yang lebih kuat dan berorientasi jangka panjang, yang bisa berfungsi sebagai penahan (buffer) saat terjadi gejolak. Menurutnya, peran investor institusional dalam negeri belum cukup kuat untuk menahan gejolak seperti ini.
Di sisi lain, ketergantungan Indonesia terhadap investor asing menjadikan pasar sangat rentan terhadap capital outflow yang sifatnya tiba-tiba. Ketika investor asing menarik dananya, tak ada cukup kekuatan domestik untuk menahan pasar tetap stabil.
“Jika otoritas BI dan OJK tetap berpuas diri dengan stabilitas semu dan hanya sibuk menyalahkan faktor eksternal, Indonesia akan terus menjadi 'pasien kronis' pasar keuangan global. Saatnya beralih dari mentalitas 'survival' menuju 'resilience'. Bukan sekadar bertahan dari badai, tetapi membangun kapal yang tak mudah tenggelam,” pungkasnya.
Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengatakan pergerakan IHSG saat ini masih berada di fase downtrend, bahkan kekhawatiran dilakukannya trading halt kembali masih berpotensi terjadi. Namun, ia menyebut saat ini ada perlawanan di IHSG sehingga diperkirakan adanya potensi penguatan dalam jangka pendek.
“Kekhawatiran [trading halt] terjadi masih ada, namun saat ini nampaknya ada perlawanan di IHSG. Kami perkirakan adanya potensi penguatan dalam jangka pendek, mungkin beberapa hari ke depan, pada IHSG di mana area support saat ini di Rp5.959 dan resist di Rp6.042,” jelasnya.













