Hadapi Perang Dagang, Indonesia Buka Opsi Pasar Ekspor Baru

Ilustrasi Ekspor. (Dok. Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu)
FAKTA.COM, Jakarta – Pemerintah buka opsi untuk memperluas pasar ekspor. Inisiatif tersebut diambil guna merespons kebijakan tarif dagang Amerika Serikat yang diumumkan Rabu (2/4/2025).
Seperti diketahui, sejumlah negara dikenakan tarif bea masuk impor oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Dalam hal ini, produk Indonesia dikenakan tarif sebesar 32 persen.
Namun, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto berujar bahwa hal ini masih bisa diantisipasi. Sebab, menurut penuturannya ekspor RI ke Amerika Serikat hanya 2,2 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Berbeda dengan Vietnam yang porsi ekspornya ke Amerika Serikat jauh lebih besar.
“Nah, top ekspor kita adalah China US$60 miliar, Amerika US$26 miliar, dan India US$20 miliar. Nah tentu kita bisa membuka market lain di luar Amerika,” kata Airlangga dalam "Sarasehan Ekonomi bersama Presiden Republik Indonesia", Selasa (8/4/2025), di Menara Mandiri, Jakarta.
Pernyataan Airlangga pun senada dengan data ekspor nonmigas Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, China menjadi negara tujuan ekspor terbesar Indonesia. Kendati, Amerika Serikat berada di peringkat ke-2, tetapi jaraknya dengan China dalam besaran ekspor dari Tanah Air relatif jauh.
Sementara itu, ekspor ke Amerika Serikat jika dibandingkan dengan negara-negara di bawahnya, maka angka tersebut tidak beda jauh.
Terkait hal ini, di samping terus melakukan negosiasi dengan pihak AS, pemerintah juga aktif membuka pasar baru. Salah satunya melalui penyelesaian perundingan EU-CEPA (European Union-Comprehensive Economic Partnership Agreement).
“EU-CEPA tinggal satu isu, yaitu masalah transparansi perdagangan dan dengan regulasi yang nanti Bapak Presiden umumkan—itu [EUCEPA] selesai,” ujar Airlangga.
Penyelesaian EU-CEPA ini diharapkan mampu memperluas pangsa ekspor Tanah Air ke Uni Eropa. Terlebih, Airlangga bilang bahwa industri food dan apparel yang merupakan produk unggulan Indonesia ternyata paling besar di pasar Eropa.
Di samping itu, ada pula kerja sama ekonomi RCEP (Regional Comprehensive Economic Partnership) yang basisnya adalah ASEAN Plus. Hemat Airlangga, nilai ekonomi dari kerja sama ini mencapai Rp24,6 triliun.
Ada pula kerja sama di Asia Pasifik, melalui kerangka kerja sama CPTPP (Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership).
“Malaysia menggunakan CPTPP ini untuk membuka pasar dan Indonesia juga sudah melakukan aksesi terhadap CPTPP, sehingga ini menjadi alternatif untuk balancing pasar,” jelas Airlangga.
Begitu juga dengan memanfaatkan BRICS, Airlangga menyebutkan bahwa dengan komitmen pemerintah bergabung ke New Development Bank (NDB), maka Indonesia punya aliansi dari berbagai negara secara multilateral.













