IHSG Sesi I Trading Halt, BBCA dan BBRI Terbanyak Ditransaksikan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok dalam pembukaan perdagangan setelah libur lebaran di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (8/4/2025). (Fakta.com/Kania Hani Musyaroh)
FAKTA.COM, Jakarta – Pada pembukaan perdagangan saham sesi I di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, hari ini Selasa (8/4/2025) mengalami penghentian sementara atau trading halt. Hal ini dilakukan karena telah terjadi penurunan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) lebih dari delapan persen.
Pada pukul 09.17 IHSG anjlok drastis mengalami penurunan sebesar 9,19 persen atau anjlok 598,56 poin hingga menyentuh level harga Rp5.912,06.
Penurunan saham ini tercatat dipengaruhi oleh koreksi dari saham-saham blue chip antara lain: BBRI mencatat koreksi terdalam dengan pelemahan 14,57 persen ke level Rp3.460, disusul oleh BMRI yang turun 13,46 persen ke Rp4.500, dan BBCA melemah 12,94 persen ke Rp7.400. Saham emiten konstruksi pelat merah Adhi Karya (ADHI) bahkan anjlok 15 persen ke Rp204.
Pembekuan perdagangan ini disampaikan oleh Sekretaris Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia, Kautsar Primadi Nurahmad melalui keterangan tertulis BEI.
“Tindakan pembekuan sementara perdagangan (trading halt) sistem perdagangan di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dilakukan pada pukul 09:00:00 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS). Tindakan ini dilakukan karena terdapat penurunan IHSG yang mencapai 8 persen,” sebutnya.
Kautsar mengatakan bahwa upaya ini dilakukan BEI dalam rangka menjaga perdagangan saham agar senantiasa teratur, wajar, dan efisien sesuai dengan Peraturan Nomor II-A tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas dan diatur lebih lanjut pada Surat Keputusan Direksi BEI nomor Kep-00002/BEI/04-2025.
Di tengah koreksi tajam IHSG, sejumlah saham justru mencatatkan penguatan signifikan.
Saham BALI memimpin daftar top gainers dengan kenaikan harga sebesar 4,96 persen ke level Rp1.270. Disusul oleh ASDM naik 2,98 persen, UANG naik 2,48 persen, CYBR naik 2,16 persen, serta KUAS naik 2 persen.
Sementara itu, saham dengan frekuensi perdagangan tertinggi masih didominasi oleh saham-saham big cap.
Saham BBCA menjadi yang paling aktif diperdagangkan dengan frekuensi 7.947 kali, diikuti oleh BBRI sebanyak 6.274 kali, BMRI sebanyak 3.020 kali, GOTO sebanyak 1.974 kali, dan TLKM sebanyak 1.836 kali. Meski mencatat frekuensi tinggi, kelima saham ini tercatat mengalami penurunan harga.













