Jangan Kambing Hitamkan Trump Atas Pelemahan Rupiah

Ilustrasi kurs Rupiah terhadap Dolar AS. (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/foc/am.)
FAKTA.COM, Jakarta – Rupiah kembali melemah. Bahkan, di perdagangan non deliverable forward (NDF), kurs Garuda menembus angka 17.000 per Senin (7/4/2025). Pelemahan ini banyak dikaitkan dengan kebijakan tarif dagang Trump yang diumumkan pada Rabu (2/4/2025).
Informasi saja, saat ini di pasar NDF, Rupiah telah mencapai level Rp17.200-an hari ini. Sementara itu, di pasar reguler, Rupiah ditutup sebesar Rp16.562 per Kamis (27/3/2025), sebelum libur Lebaran.
Pelemahan ini banyak dikaitkan dengan kebijakan tarif dagang Trump. Sebab, seperti diketahui, AS mengenakan tarif dagang kepada sejumlah negara, termasuk Indonesia. Adapun Indonesia dikenakan tarif bea masuk impor sebesar 32 persen.
Namun, Ekonom Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat mengungkap bahwa pelemahan Rupiah bukan serta-merta karena kebijakan Trump.
Sebab, negara tetangga, seperti Vietnam, Filipina, dan India—kata Achmad tidak mengalami depresiasi nilai tukar separah Indonesia. Walhasil, meski tekanan eksternal, termasuk kebijakan Trump mempercepat pelemahan Rupiah, permasalahan utamanya jauh lebih fundamental.
Menurut penuturan Achmad, dalam tiga bulan terakhir, Peso Filipina terdepresiasi 6,8 persen, sedangkan dalam periode yang sama, Rupiah terdepresiasi hingga 13,2 persen.
“Ini bukan sekadar persoalan eksternal, melainkan ketidaksiapan BI dan pemerintah dalam membangun ketahanan ekonomi domestik yang tahan banting,” ujar Achmad dalam keterangan tertulis, Senin (7/4/2025).
Di satu sisi, intervensi Bank Indonesia dianggap lambat. Seperti diketahui, BI mengumumkan intervensi di pasar NDF per hari ini, sebab Rupiah merosot saat pasar domestik libur Idulfitri.
“Seharusnya, BI telah memprediksi bahwa libur panjang akan membuat pasar domestik vakum, sementara pasar global tetap aktif,” jelas Achmad.
Adapun salah satu masalah fundamental yang disinggung Achmad adalah defisit transaksi berjalan yang terus melebar. Bahkan, tahun ini diperkirakan mencapai 1,18-2,3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
“Lebih tinggi daripada Vietnam yang diprediksi surplus (2,7 persen, prediksi IMF) dan India defisit (1,2 persen prediksi ICRA),” ujar Achmad.
Defisit ini dipicu oleh ketergantungan impor yang dinilai Achmad sudah kronis. Baik di sektor retail, manufaktur, dan energi.













