Fakta.com
    !
FOCUS
FOCUS
Fakta.com
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
  1. Home
  2. ekonomi
  3. Jangan Kambing Hitamkan Trump ...

Jangan Kambing Hitamkan Trump Atas Pelemahan Rupiah

Ilustrasi kurs Rupiah terhadap Dolar AS. (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/foc/am.)

Ilustrasi kurs Rupiah terhadap Dolar AS. (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/foc/am.)

Google News Image

FAKTA.COM, Jakarta – Rupiah kembali melemah. Bahkan, di perdagangan non deliverable forward (NDF), kurs Garuda menembus angka 17.000 per Senin (7/4/2025). Pelemahan ini banyak dikaitkan dengan kebijakan tarif dagang Trump yang diumumkan pada Rabu (2/4/2025).

Informasi saja, saat ini di pasar NDF, Rupiah telah mencapai level Rp17.200-an hari ini. Sementara itu, di pasar reguler, Rupiah ditutup sebesar Rp16.562 per Kamis (27/3/2025), sebelum libur Lebaran.

Pelemahan ini banyak dikaitkan dengan kebijakan tarif dagang Trump. Sebab, seperti diketahui, AS mengenakan tarif dagang kepada sejumlah negara, termasuk Indonesia. Adapun Indonesia dikenakan tarif bea masuk impor sebesar 32 persen.


Namun, Ekonom Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat mengungkap bahwa pelemahan Rupiah bukan serta-merta karena kebijakan Trump.

Sebab, negara tetangga, seperti Vietnam, Filipina, dan India—kata Achmad tidak mengalami depresiasi nilai tukar separah Indonesia. Walhasil, meski tekanan eksternal, termasuk kebijakan Trump mempercepat pelemahan Rupiah, permasalahan utamanya jauh lebih fundamental.

Menurut penuturan Achmad, dalam tiga bulan terakhir, Peso Filipina terdepresiasi 6,8 persen, sedangkan dalam periode yang sama, Rupiah terdepresiasi hingga 13,2 persen.

“Ini bukan sekadar persoalan eksternal, melainkan ketidaksiapan BI dan pemerintah dalam membangun ketahanan ekonomi domestik yang tahan banting,” ujar Achmad dalam keterangan tertulis, Senin (7/4/2025).

Baca Juga: Ada Tarif Trump, BI Terapkan Triple Intervention Jaga Rupiah

Di satu sisi, intervensi Bank Indonesia dianggap lambat. Seperti diketahui, BI mengumumkan intervensi di pasar NDF per hari ini, sebab Rupiah merosot saat pasar domestik libur Idulfitri.

“Seharusnya, BI telah memprediksi bahwa libur panjang akan membuat pasar domestik vakum, sementara pasar global tetap aktif,” jelas Achmad.

Adapun salah satu masalah fundamental yang disinggung Achmad adalah defisit transaksi berjalan yang terus melebar. Bahkan, tahun ini diperkirakan mencapai 1,18-2,3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

“Lebih tinggi daripada Vietnam yang diprediksi surplus (2,7 persen, prediksi IMF) dan India defisit (1,2 persen prediksi ICRA),” ujar Achmad.

Defisit ini dipicu oleh ketergantungan impor yang dinilai Achmad sudah kronis. Baik di sektor retail, manufaktur, dan energi.

Bagikan:
pelemahan rupiahkebijakan tarif Trumpbank indonesiakurs Rupiah terhadap Dolar
ADS

Update News

Fakta
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
Interactive
Games
Video
Log In

Trending