Perang Dagang 2.0, Menipisnya Peluang Relokasi Industri ke Indonesia

Ilustrasi - Arus fiskal demi pertumbuhan ekonomi didukung oleh logistik. (Dok. Kemenkeu)
FAKTA.COM, Jakarta – Potensi Indonesia untuk menjadi tujuan utama relokasi industri di tengah kebijakan tarif dagang Presiden Donald Trump dianggap mulai menipis. Mengapa demikian?
Terkait hal ini, Direktur Riset Bright Institute, Muhammad Andri Perdana skeptis bahwa China akan merelokasi industrinya ke Indonesia. Sebab, Andri memandang China sudah lebih siap menghadapi taring Amerika Serikat. Kondisi yang berbeda saat perang dagang 1.0, yakni ketika periode pertama Trump memimpin Negeri Paman Sam.
“China sendiri kini jauh lebih siap dengan perang tarif terhadap AS dibandingkan saat Trump 1.0. Sekarang, industri-industri China ini jauh lebih terdiversifikasi pasar tujuannya, terutama pasar domestik, sehingga tidak terlalu bergantung dengan pasar AS seperti pada Trump 1.0,” jelas Andri kepada Fakta.com, Senin (7/4/2025).
Andri juga berpendapat, agaknya AS tidak berniat untuk menurunkan tarif dagangnya, termasuk kepada produk manufaktur andalan Vietnam. Menurutnya, apa yang dilakukan Trump, semata-mata untuk mendorong hubungan dominatif tak setara dengan negara-negara di bawahnya.
“Kecil kemungkinan tarif produk-produk manufaktur yang menjadi andalan Vietnam akan benar-benar dihapus Trump karena tujuan ‘reindustrialisasi domestik’ yang sudah dijanjikan Trump, baik kepada konstituennya maupun juga kepada lobi industrial interest groups,” tutur Andri.
Dalam hal ini, ia memandang bahwa situasi perang dagang tidak banyak memberikan peluang Indonesia untuk membajak kemungkinan relokasi industri. Sebab, AS pun bersikeras hendak membangun industrinya sendiri.
Bahkan, andai AS benar-benar menurunkan tarifnya di suatu negara, tidak ada jaminan bahwa Trump tidak akan mengancam dengan tarif yang sama.
“Trump bisa kembali mengancam menerapkan tarif kembali sebagaimana yang dilakukan kepada Kanada dan Meksiko walaupun kedua negara tersebut sebelumnya sudah memberikan konsesi kepada Trump. Indonesia tidak siap dan tidak pantas jika terus diminta memberikan konsesi setiap kali diancam oleh tarif,” imbuh Andri
Andri pun menegaskan bahwa terlalu banyak ketidakpastian untuk industri melakukan relokasi basis produksi hanya untuk menghindari tarif Trump.
Sementara itu, Ekonom INDEF, Fadhil Hasan mengungkap alasannya, ternyata Indonesia dikenakan tarif yang tidak berbeda jauh dengan China.
Seperti diketahui, Indonesia dikenakan tarif bea masuk impor ke Amerika Serikat sebesar 32 persen. Angka ini tidak beda jauh dengan China yang disasar tarif sebesar 34 persen.
“J̌adi kalau ada perang dagang US-China, relokasi mungkin ke negara-negara yang level tarifnya jauh di bawah Indonesia,” ungkap Fadhil dalam keterangan tertulis, Sabtu (5/4/2025).
Di sisi lain, Indonesia dianggap terlambat mengambil sikap dalam menanggapi tarif dagang yang diumumkan Trump, Rabu (2/4/2025).
Sementara itu, Vietnam dengan sigap mengajukan perundingan dengan pihak AS. Bahkan, negara itu siap memberikan tarif nol persen kepada AS guna mendapatkan keringanan.













