Rebut Peluang Perang Dagang, Indonesia Jangan Mau Disalip Vietnam!

Ilustrasi - Neraca perdagangan ditunjukkan dari data ekspor-impor. (Unsplash)
FAKTA.COM, Jakarta – Kebijakan tarif dagang Amerika Serikat sebelumnya disebut berpotensi memunculkan peluang. Sebab, ada kemungkinan negara, seperti Tiongkok merelokasi industrinya untuk menghindari tarif yang lebih mahal.
Belum lama ini, Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Chatib Basri juga mengamini peluang itu. Menurut penuturannya, dengan skenario pengenaan tarif dagang yang tinggi, terutama kepada Tiongkok, maka ada kemungkinan relokasi industri.
Bukan hanya industri Tiongkok saja, tetapi negara yang basis produksinya berada di Negeri Tirai Bambu itu akan mencoba mendiversifikasi risiko dengan memindahkan pabriknya, termasuk ke Indonesia.
“Jika risiko di China terlalu besar, mereka harus mencari alternatif,” ujar Chatib dalam "SMBC Indonesia Economic Outlook 2025" di Jakarta, Selasa (18/2/2025) lalu.
Dalam kesempatan itu, Chatib berujar bahwa bisa saja relokasi industri tersebut pindah ke Vietnam. Tapi mereka menghadapi tantangan tersendiri dimana Vietnam tercatat punya surplus dagang dengan AS dalam jumlah besar, yakni US$118 miliar, sedangkan Indonesia hanya surplus US$19 miliar saja.
“Jadi kalau Trump menargetkan negara yang punya surplus, Vietnam akan kena terlebih dahulu,” jelas Chatib.
Walhasil, pada saat itu, Chatib mengatakan bahwa peluang Indonesia untuk memanfaatkan perang dagang dengan membangun industri cukup cerah.
Benar saja, ketika Trump mengumumkan daftar tarif dagang kepada sejumlah negara, Rabu (2/4/2025), Vietnam dikenakan tarif sebesar 46 persen, lebih besar dibandingkan dengan Indonesia, yakni 32 persen.
Meski begitu, tampaknya peluang yang disampaikan Chatib beberapa waktu lalu agak sulit untuk direalisasikan. Sebab, tarif dagang yang dikenakan kepada Indonesia tidak jauh berbeda dengan Tiongkok.
“J̌adi kalau ada perang dagang US-China, relokasi mungkin ke negara-negara yang level tarifnya jauh di bawah Indonesia,” ujar Ekonom INDEF, Fadhil Hasan dalam keterangan tertulis, Sabtu (5/4/2025).
Di samping itu, Fadhil melihat bahwa Vietnam pun berpotensi bisa mengembalikan keadaan dan membajak peluang relokasi industri. Sebab, Vietnam tengah melobi AS agar tarif dagangnya diturunkan. Bahkan, pihaknya dikabarkan siap memberi tarif impor nol persen untuk produk AS agar Trump mau memberikan keringanan.
“Jadi jangan sampai relokasi dari China justru ke Vietnam,” Imbuh Fadhil.
Diplomasi Strategis, Bukan Adu Tarif
Menanggapi hal ini, Fadhil menyampaikan bahwa Indonesia perlu mendorong sejumlah diplomatic engagement dan bilateral dialogue agar keadaan menjadi lebih baik. Pendekatan semacam ini lebih tepat dilakukan alih-alih membalas dengan tarif retaliasi seperti yang dilakukan Tiongkok.
“Tidak banyak leverage yang dimiliki Indonesia untuk retaliasi dan malah akan membuat Amerika melakukan re-retaliasi yang membuat keadaan dan dampak lebih buruk lagi,” jelasnya.
Apabila diplomasi sudah berhasil dilakukan, untuk memanfaatkan perang dagang ini dengan menarik relokasi industri, Indonesia perlu melakukan sejumlah deregulasi. Terlebih, pada kebijakan dan aturan yang menghambat investasi dan perdagangan.
Maka, Indonesia bisa menari-nari di atas genderang perang dagang dengan membawa relokasi industri dan investasi baru.
“Dengan demikian dapat menarik investasi dari relokasi industri dari China misalnya,” tegas Fadhil
Upaya membidik relokasi industri ini terlihat begitu penting bagi Indonesia. Terlebih, jika melihat kinerja sektor industri Tanah Air yang dalam tren pelemahannya dalam beberapa tahun terakhir—fenomena yang sering disebut sebagai deindustrialisasi prematur.
Sebab, data menunjukkan pertumbuhan sektor manufaktur di Indonesia cenderung stagnan di angka 3-4 persen. Padahal, tahun ini ditargetkan tumbuh hingga 7,28 persen.
Begitu juga dengan distribusi sektor manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang angkanya kian menyusut.













