Saat Dolar Melemah Rupiah Gagal Menguat, Ada Apa?

Petugas menghitung uang pecahan Dolar AS dan Rupiah di gerai penukaran mata uang asing. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/rwa/aa)
FAKTA.COM, Jakarta – Rupiah masih dalam tren pelemahannya. Selain disebabkan oleh faktor eksternal, sejumlah pengamat juga mengkhawatirkan kondisi fundamental Rupiah itu sendiri. Mengapa demikian?
Seperti diketahui, dalam beberapa waktu terakhir, Rupiah terus berfluktuasi, tetapi cenderung melemah. Pada penutupan perdagangan terakhir, Senin (24/3/2025), Rupiah ditutup melemah di level 16.519.
Pelemahan ini sering disebut imbas dari ketidakpastian kebijakan dagang Trump. Gagasan proteksionisme Trump dianggap banyak membawa dolar Amerika Serikat (AS) pulang kampung.
Namun, tidak sedikit pengamat yang menyebutkan bahwa tekanan pada Rupiah dipengaruhi faktor fundamental dalam negeri. Sebab, jika ditarik dalam horizon waktu yang lebih panjang, dapat dilihat ketika indeks Dollar (DXY) tertekan, Rupiah pun tidak selalu menguat. Bahkan, cenderung tetap dalam tren pelemahannya.
Salah satu yang menyampaikan pendapat itu adalah Ekonom Universitas Andalas, Prof, Syafruddin Karimi dalam keterangan tertulis, Selasa (25/3/2025). Menurut penuturannya, Rupiah bahkan sudah melemah secara bertahap sejak lama.
“Grafik historis nilai tukar Rupiah menunjukkan tren pelemahan bertahap sejak 2015, dengan lonjakan tajam selama pandemi COVID-19 dan tekanan berulang sejak 2023. Artinya, pelemahan ini juga merupakan cerminan dari persoalan domestik yang lebih dalam,” tutur Syafruddin.
Dengan kata lain, Syafruddin menilai pelemahan Rupiah ini bukan hanya pengaruh tekanan eksternal, seperti sentimen kebijakan suku bunga The Fed.
Di kesempatan lain, Ekonom Senior INDEF, Fadhil Hasan pun mengungkap hal serupa. Menurutnya, pelemahan DXY, tetapi tidak disertai penguatan Rupiah menggambarkan sebuah anomali.
“BI (Bank Indonesia) menyampaikan ada aliran dana ke emerging markets tapi Rupiah terus mengalami tekanan. Artinya ada persoalan di dalam negeri yang lebih dominan bukan faktor eksternal,” ujar Fadhil dalam keterangan tertulis, Selasa (25/3/2025).
Dalam keterangannya Syafruddin membeberkan sejumlah masalah fundamental perekonomian dalam negeri yang mendorong pelemahan Rupiah.
“Lemahnya konsistensi kebijakan, minimnya komunikasi ekonomi yang meyakinkan, dan ketidakseimbangan antara fiskal-moneter,” pungkas Syafruddin.
Di samping itu, Fadhil juga mengungkap sejumlah indikator yang menunjukkan lemahnya fundamental perekonomian Indonesia.
“Deindustrialisasi, iklim investasi tidak kondusif, korupsi, ICOR yang tinggi, dan daya saing rendah,” jelas Fadhil.













