Fakta.com
    !
FOCUS
FOCUS
Fakta.com
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
Fakta
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
Interactive
Games
Video
Log In
  1. Home
  2. ekonomi
  3. Nikel Masih jadi Prioritas Nom...

Nikel Masih jadi Prioritas Nomor Satu Indonesia di Sektor Mineral

Smelter nikel di Konawe, Sulawesi Tenggara. (Dok. Kemenperin)

Smelter nikel di Konawe, Sulawesi Tenggara. (Dok. Kemenperin)

Google News Image

FAKTA.COM, Jakarta - Indonesia terus menghadapi transformasi signifikan dalam sektor industri mineral. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) baru-baru ini mengumumkan komoditas prioritas untuk mendukung hilirisasi.

Terdapat 28 komoditas prioritas yang menjadi perhatian utama dalam upaya hilirisasi. Dari jumlah tersebut, 10 komoditas di antaranya merupakan mineral yang berpotensi besar untuk mendukung perkembangan industri Indonesia ke depan.

Sepanjang 2024, nikel jadi komoditas puncak, berdasarkan persentase cadangan tertinggi. Angkanya mencapai 22% dari total cadangan global.

Cadangan SDA prioritas Indonesia. (Dok. BKPM)

Cadangan SDA prioritas Indonesia. (Dok. BKPM)

Bukan hanya itu, berdasarkan data dari Mineral One Data Indonesia (MODI), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral per (24/12/2024), nikel juga menjadi garda terdepan dari sisi produksi.

Produksinya mencapai 431.483,35 ton. Adapun rinciannya, sebanyak 427.236,77 ton merupakan produksi Ferro Nickel dan sebanyak 4.246,58 ton merupakan produksi Nickel Matte.

Mineral lain, yaitu logam timah, memiliki jumlah produksi sebanyak 8.622,24 ton.

Sementara itu, jumlah produksi dari logam emas dan logam perak berada di bawah jumlah produksi timah. Masing-masing adalah sebanyak 5,54 ton untuk logam emas, dan 35,54 ton untuk logam perak.

Apabila dilihat dari realisasi investasinya, Sejak 2023 hingga Semester-I 2024, nikel memberikan nilai investasi yang paling tinggi di antara bauksit, tembaga, dan timah.

Cadangan yang tinggi pada komoditas nikel telah didukung dengan adanya perkembangan jumlah industri pengolahan nikel yang tersebar di beberapa provinsi di Indonesia.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Ahmad Heri Firdaus menyebut jumlah industri pengolahan nikel berdasarkan data yang dihimpun dari BKPM adalah sebanyak 190.

Industri pengolahan komoditas nikel ini tersebar pada enam provinsi di Indonesia, dengan jumlah terbanyak terdapat di Sulawesi Tenggara.

Perkembangan industri nikel saat ini. (Dok. INDEF)

Perkembangan industri nikel saat ini. (Dok. INDEF)

Bagikan:
nikelmineralkementerian investasi/bkpmindef
Loading...
ADS

Update News

Trending