Momentum 'Window Dressing', IHSG Beranjak Naik
Ilustrasi
FAKTA.COM, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai menunjukkan taringnya. Setelah terseok-seok menghadapi tingginya outflow asing, IHSG mulai beranjak naik. Apa faktor penyebabnya?
Seperti diketahui, tren IHSG beberapa waktu terakhir dapat dikatakan tidak begitu baik. Hal tersebut didorong atas laju foreign outflow yang besar.
Bahkan, pada November 2024, nilai foreign net sell menjadi yang paling tinggi sepanjang tahun ini, yakni sebesar Rp16,5 triliun. Namun, setelah terseok-seok, aliran modal asing mencatatkan net buy di minggu pertama perdagangan Desember tahun ini.
Berdasarkan data di atas, dapat dilihat sampai dengan minggu akhir perdagangan bulan November, aliran modal asing masih tercatat net sell sebesar Rp3.898 miliar. Sementara itu, minggu pertama perdagangan bulan Desember, terlihat ada perbaikan dengan catatan net buy asing sebesar Rp1.070,14 miliar.
Perbaikan tren aliran modal asing juga sejalan dengan kinerja IHSG yang mulai membaik. Berdasarkan data perdagangan, Jumat (6/12/2024), IHSG ditutup pada level 7.382. Atas catatan ini, IHSG menguat 3,77 persen dalam seminggu terakhir.
Fenomena Window Dressing dan Peluang di Baliknya
Menurut Analis Pasar Modal, William Hartanto, perbaikan kinerja IHSG yang terjadi belakangan merupakan dampak dari sentimen window dressing.
Sekadar informasi, window dressing adalah momen perusahaan mempercantik laporan keuangan mereka di akhir periode. Misalnya, dengan menunda pengeluaran atau mempercepat pendapatan.
Di samping itu, perusahaan akan cenderung mengurangi utang jangka pendek sebelum tanggal pencatatan laporan keuangan untuk meningkatkan kinerja rasio keuangan. “Umumnya window dressing itu terjadi bisa 2-4 minggu,” kata William kepada Fakta.com, Senin (9/12/2024).
William menambahkan, investor ritel yang memiliki karakteristik trading cepat dapat memanfaatkan momen ini untuk trading.
Dalam rilis yang diterima Fakta.com, Senin (9/12/2024), Analis Ekuitas PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Dimas Krisna Ramadhani, berujar, ada potensi penguatan lanjutan pada saham yang berada dalam daftar 10 teratas kapitalisasi pasar Indonesia di tengah momentum window dressing ini.
"Mengingat kenaikan terjadi di saham-saham konglomerat yang berada di dalam top 10 kapitalisasi pasar IHSG maka peluang penguatan lanjutan juga cukup terbuka lebar di saham-saham tersebut pada momentum window dressing saat ini," jelas Dimas.
Ia juga bilang, jika IHSG dapat mempertahankan levelnya di atas 7.250, akan ada potensi IHSG terus meningkat di kisaran 7.500-7.600 di akhir tahun ini.













