Fakta.com
    !
FOCUS
FOCUS
Fakta.com
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
  1. Home
  2. ekonomi
  3. Ekonomi Kurang Gereget, Ekonom...

Ekonomi Kurang Gereget, Ekonom Senior Singgung Sektor Keuangan yang Masih Cetek

Ekonom Senior, Faisal Basri dalam Non Bank Financial Forum, Jumat (26/7/2024). (Tangkapan layar)

Ekonom Senior, Faisal Basri dalam Non Bank Financial Forum, Jumat (26/7/2024). (Tangkapan layar)

Google News Image

FAKTA.COM, Jakarta - Sektor keuangan Indonesia masih cetek. Implikasinya, potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi tidak maksimal.

Hal tersebut diungkap oleh Ekonom Senior, Faisal Basri dalam Non Bank Financial Forum Infobank Media Group 2024, Jumat (26/7/2024). 

Dalam kesempatan itu, Faisal memaparkan fakta-fakta yang tertuang pada Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF) 2025. Dokumen itu menunjukkan ceteknya sektor keuangan Indonesia.

Salah satunya adalah kontribusi industri asuransi yang masih rendah. "Industri asuransi ini kita lihat Indonesia cuma 5,8% dari Produk Domestik Bruto atau PDB,” ujar Faisal.

Daerah Perlu Miliki Pusat Literasi dan Inklusi Keuangan

Angka tersebut berada di bawah negara tetangga, seperti Filipina 8,5%, Thailand 23,2%, Malaysia 20,3%, dan Singapura 47,5%. Faisal bilang, kalau bisa menyamai angka Filipina saja pasarnya bisa mencapai puluhan hingga ratusan triliun.

Di samping itu, Faisal juga menyoroti aset dana pensiun kita yang masih rendah, yakni 6,9% dari total PDB. Padahal, Malaysia angkanya menyentuh 59,9% dari PDB. 

“Kalau kita 10% (aset dana pensiun terhadap PDB) saja, itu luar biasa dana yang bisa digerakkan untuk pembangunan,” kata Faisal menambahkan.

Secara keseluruhan, kontribusi sektor keuangan terhadap PDB Indonesia hanya menyentuh 4,1%, sementara itu beberapa negara tetangga berada di atasnya, seperti Malaysia dengan 6,1%, Thailand 8,3%, Filipina 10,1%, dan Singapura 11,9%.

Jokowi Minta OJK Dorong Kredit UMKM serta Literasi dan Inklusi Keuangan

Lebih lanjut, Faisal memaparkan rasio kredit perbankan untuk sektor swasta terhadap PDB yang juga masih tergolong rendah, angkanya ialah 30,6% per 2022. Sementara itu, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Singapura angkanya bahkan menembus 100%.

“Makanya tumbuhnya (ekonomi) 5% terus,” tutur Faisal.

Faisal juga bilang, kalau angkanya meningkat serempat saja pertumbuhan ekonomi bisa menembus 5%. “Pertumbuhan ekonomi minimum 6,5%,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Faisal menuturkan bahwa tidak ada alasan untuk pesimis asal OJK mampu kondusif mendorong semua untuk bisa memaksimalkan potensi yang ada. 

Bagikan:
fakta.comfaisal basridana pensiunasuransipertumbuhan ekonomiproduk domestik bruto
ADS

Update News

Fakta
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
Interactive
Games
Video
Log In

Trending