Fakta.com
    !
FOCUS
FOCUS
Fakta.com
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
Fakta
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
Interactive
Games
Video
Log In
  1. Home
  2. data
  3. Duit Seret, Indeks Keyakinan K...

Duit Seret, Indeks Keyakinan Konsumen Maret Merosot

Ilustrasi - Konsumsi dan belanja masyarakat Indonesia. (Fakta.com/Rillo Hans)

Ilustrasi - Konsumsi dan belanja masyarakat Indonesia. (Fakta.com/Rillo Hans)

Google News Image

FAKTA.COM, Jakarta – Bank Indonesia (BI) mengatakan bahwa kondisi perekonomian tetap terjaga. Hal tersebut cerminan dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) edisi Maret tahun ini yang masih berada di level optimis. Namun, apa benar demikian?

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso mengungkap bahwa survei konsumen yang dirilis oleh Bank Indonesia (BI), Selasa (15/4/2025) mengindikasikan keadaan ekonomi yang tetap terjaga.

“Hal ini tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Maret 2025 yang tetap berada pada level optimis sebesar 121,1,” ujar Denny dalam siaran pers di laman resmi BI, Selasa (15/4/2025).

IKK Maret 2025 ditopang oleh Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang tetap berada pada level optimis (indeks >100). IKE dan IEK masing-masing tercatat sebesar 110,6 dan 131,7, lebih rendah dibandingkan dengan indeks bulan sebelumnya yang masing-masing tercatat sebesar 114,2 dan 138,7.

Namun, Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi memiliki pandangan lain. Menurutnya, tren penurunan IKK tersebut justru menunjukkan sesuatu yang mengkhawatirkan.

“Jika konsumen tidak percaya diri untuk belanja, maka motor utama pertumbuhan akan kehilangan tenaganya,” ujar Syafruddin dalam keterangan tertulis, Selasa (15/4/2025).

Terlebih, porsi konsumsi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia masih yang paling besar. Lebih dari setengah struktur ekonomi Tanah Air ditopang oleh konsumsi rumah tangga.

Data menunjukkan, sudah tiga bulan berturut-turut IKK Indonesia berada dalam tren penurunannya. Per Maret ini, IKK terkontraksi 5,1 poin dibandingkan catatan bulan lalu.

“Penurunan indeks keyakinan konsumen bukan sekadar angka statistik. Ia adalah barometer psikologi publik terhadap ekonomi nasional,” ujar Syafruddin.

Bahkan, secara umum, seluruh aspek pembentuk IKK mengalami kontraksi dibandingkan bulan sebelumnya.


Syafruddin mengungkap, di luar kondisi Indonesia yang diwarnai dengan tekanan daya beli akibat stagnasi upah riil dan peningkatan biaya hidup, gelombang PHK (Pemutusan Hubungan Kerja), terutama yang terjadi di industri padat karya secara masif juga menjadi faktor pemburuk.


“Tidak heran jika seluruh komponen indeks keyakinan konsumen, dari ekspektasi pendapatan hingga persepsi terhadap lapangan kerja, menunjukkan penurunan serempak,” imbuh Syafruddin.

Bagikan:
Indeks Keyakinan Konsumenbelanja masyarakatbank indonesiatenaga kerja ter-phk
ADS

Update News

Trending