Sebulan Berdiri, Danantara Diharapkan jadi Katalis Baru Ekonomi Syariah

Ilustrasi - Ekonomi Syariah. (Shutterstock)
FAKTA.COM, Jakarta – Pemerintah Indonesia telah meluncurkan Daya Anagata Nusantara (Danantara) sebagai lembaga pengelola investasi pada Senin, 24 Februari 2025 lalu.
Dalam perkembangannya, Danantara diproyeksikan menjadi salah satu Sovereign Wealth Fund (SWF) terbesar di dunia dengan total aset yang dikelola mencapai Rp14.000 triliun atau sekitar US$900 miliar.
Peneliti Peneliti Center for Sharia Economic Development (CSED) Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Handi Risza, menilai Danantara memiliki peluang besar untuk berkontribusi dalam sektor keuangan syariah dan industri halal.
“Potensi industri halal dan keuangan syariah sangat besar, baik di tingkat nasional maupun global. Danantara bisa berperan sebagai motor penggerak investasi di sektor ini,” ujar Handi dalam diskusi daring bertajuk "Overview Ekonomi Ramadan" di Jakarta pada Jumat (21/3/2025).
Saat ini, total aset keuangan syariah global mencapai US$4,5 triliun, dengan sektor seperti perbankan syariah, sukuk, dan asuransi Islam menunjukkan pertumbuhan pesat.
Di Indonesia sendiri, aset keuangan syariah telah mencapai Rp2.742 triliun pada Agustus 2024. Menurut Handi, Danantara dapat memanfaatkan potensi ini melalui penerbitan sukuk atau investasi di proyek berbasis syariah.
Data menunjukkan bahwa kontribusi Sukuk terhadap Surat Berharga Negara (SBN) dalam lima tahun kebelakang cenderung menunjukkan tren yang meningkat. Hingga Agustus 2024 persentasenya hampir seperempat dari total SBN yakni sebesar 20,92 persen.
Selain itu, industri halal, termasuk makanan, fashion, farmasi, dan kosmetik, menunjukkan tren positif dengan nilai pasar global yang diproyeksikan mencapai US$2,29 triliun pada 2027.
Dengan dukungan investasi Danantara, sektor ini dapat berkembang lebih pesat dan meningkatkan daya saing Indonesia dalam ekonomi Islam global.
Sejumlah negara Muslim telah lebih dahulu mengembangkan SWF berbasis syariah, seperti Abu Dhabi Investment Authority dan Kuwait Investment Authority.
Indonesia, dengan populasi Muslim terbesar di dunia, memiliki peluang besar untuk menjadi pemimpin dalam investasi syariah dan industri halal.
Jika dilihat dari data terakhir Otoritas Jasa Keuangan (OJK), prospek keuangan syariah di Tanah Air terus menunjukkan tren positif hingga 2024.
Hal ini tercermin dari peningkatan intermediasi perbankan syariah dengan pertumbuhan pembiayaan sebesar 9,9 persen hingga mencapai Rp643 triliun.
Namun lebih lanjut, Handi menekankan pentingnya pengelolaan yang profesional dan transparan agar Danantara dapat benar-benar menjadi instrumen pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
“Danantara harus dikelola secara profesional, jauh dari kepentingan politik jangka pendek, agar bisa menarik kepercayaan investor global dan memberikan manfaat nyata bagi perekonomian nasional,” pungkasnya.













