Rapor Merah Sawit: Produksi Anjlok 3,8%, Konsumsi Malah Meroket

Ilustrasi - Industri Kelapa Sawit. (Fakta.com/Putut Pramudiko)
FAKTA.COM, Jakarta – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat penurunan produksi kelapa sawit sebesar 3,8 persen pada 2024. Produksi hanya mencapai 52,76 juta ton, lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 54,84 juta ton.
Sekretaris Jenderal GAPKI, Hadi Sugeng, menjelaskan bahwa angka ini merupakan gabungan dari produksi crude palm oil (CPO) dan palm kernel oil (PKO), dengan masing-masing mencatatkan produksi sebesar 48,16 juta ton dan 4,59 juta ton sepanjang 2024.
“Produksi di tahun 2024 sepertinya banyak sekali merahnya, dimana untuk produksi kita akhirnya harus menyerah di minus 3,8 persen,” ucap Hadi saat konferensi pers di Jakarta, Kamis (6/3/2025).
Menurutnya, faktor El Niño pada tahun sebelumnya menjadi penyebab di balik penurunan produksi ini. Selain itu, banyaknya tanaman yang menua juga turut menekan angka produksi kelapa sawit di 2024.
Lesunya produksi sawit turut berdampak pada menurunnya ekspor. Berdasarkan catatan GAPKI, volume ekspor produk kelapa sawit Indonesia tahun lalu mengalami penurunan 8,3 persen secara tahunan (yoy) yaitu dari 32,21 juta ton menjadi 29,53 juta ton.
Penyusutan ekspor terjadi di hampir semua kategori produk, dengan penurunan terbesar dialami oleh biodiesel yang anjlok 76,3 persen. Selanjutnya, ekspor produk olahan CPO turun 10,6 persen, olahan Palm Oil PO merosot 10 persen, dan CPKO (crude palm kernel oil) mengalami penurunan 1,55 persen.
Sementara itu, China menjadi negara tujuan ekspor yang mengalami penurunan paling tajam, yakni 31 persen dibanding tahun sebelumnya. Volume ekspor ke negara tersebut susut 2,38 juta ton, dari 7,73 juta ton pada tahun lalu.
Adanya penurunan ini, kata Hadi, utamanya disokong oleh dinamika persaingan pasar global yang menyebabkan lonjakan pada harga minyak sawit.
“Sudah sangat mahal dibandingkan dengan minyak nabati yang lain,” imbuh Hadi.
Akibat penurunan ekspor, sepanjang 2024 lalu, nilai ekspor CPO hanya mencapai US$27,76 miliar atau sekitar Rp440 triliun. Angka ini mengalami penurunan 8,44 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatatkan US$30,32 miliar atau Rp463 triliun.
Berbeda dengan produksi dan ekspor yang mengalami penurunan, konsumsi sawit justru meningkat pada 2024. GAPKI mencatat kenaikan sebesar 2,8 persen secara tahunan (yoy) dibandingkan 2023.
Peningkatan ini terutama didorong oleh tingginya permintaan biodiesel, yang tumbuh 7,5 persen (yoy) dengan volume mencapai 11,44 juta ton.
Atas dasar berakhirnya masa kritis El Niño, curah hujan yang stabil, dan proses replanting yang berjalan lancar, produksi minyak sawit Indonesia diproyeksikan meningkat pada 2025. Produksi diperkirakan mencapai 53,6 juta ton, tumbuh 1,7 persen dibanding tahun sebelumnya.
Di sisi Ekspor, GAPKI memperkirakan akan menyusut menjadi 27,5 juta ton, turun dari 29,5 juta ton yang tercatat pada 2024.
“Penurunan ekspor ini karena memang produksi sawit akan terpakai di dalam negeri,” jelas Hadi.
Sementara itu, konsumsi diproyeksikan meningkat seiring dengan permintaan produk olahan sawit seperti B40 dan penggunaan CPU.
Selain itu, penurunan volume ekspor yang mengalihkan fokus ke pasar domestik turut mendorong lonjakan konsumsi. Secara keseluruhan, konsumsi diperkirakan naik 9,5 persen (yoy) menjadi 26,1 juta ton, termasuk biodiesel B40 yang mencapai 13,6 juta ton.













