Fakta.com
    !
FOCUS
FOCUS
Fakta.com
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
Fakta
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
Interactive
Games
Video
Log In
  1. Home
  2. data
  3. Tarik Ulur Kepentingan Stimulu...

Tarik Ulur Kepentingan Stimulus Ekonomi dan Stabilitas Rupiah

Ilustrasi Kebijakan Intervensi Rupiah. (Fakta.com/Putut Pramudiko)

Ilustrasi Kebijakan Intervensi Rupiah. (Fakta.com/Putut Pramudiko)

Google News Image

FAKTA.COM, Jakarta – Indonesia dihadapkan dengan persoalan yang pelik. Berbagai sentimen global memberikan tekanan pada Rupiah, sementara itu sejumlah indikator ekonomi mengindikasikan bahwa masyarakat perlu stimulus untuk mendorong daya beli.

Direktur Eksekutif INDEF, Esther Tri Astuti mengungkap sektor riil Indonesia bisa ambruk apabila tidak mendapatkan stimulus. Sebab, beberapa indikator sudah menunjukkan pelemahan terhadap industri dan daya beli masyarakat. Misalnya, perlambatan tingkat konsumsi, pelemahan industri, hingga tingginya kelompok kelas menengah yang turun kelas.


Fakta tersebut dipaparkannya dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Banggar DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (26/2/2025).

Dalam hal ini, Esther menilai perlu ada kebijakan ekspansif untuk memberikan stimulus terhadap industri. Tidak terkecuali kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI). Esther berpendapat, Bank Indonesia (BI) harus segera memangkas suku bunganya.

“Kasihan, banyak perusahaan yang [melakukan] layoff tenaga kerja,” tutur Esther.


Data menunjukkan, angka masyarakat ter-PHK meroket tinggi. Sepanjang tahun lalu, jumlahnya tercatatkan sebesar 77.965 jiwa. Padahal, pada tahun sebelumnya, angka PHK hanya 64.855 jiwa.

Esther pun berujar, apabila kebijakan fiskal sedang ketat, biasanya moneter akan merespons dengan lebih longgar atau memberikan stimulus. Akan tetapi, justru yang dilakukan sebaliknya.

Dalam keterangan tertulis, Chief Economist and Head of Research, Mirae Asset Sekuritas, Rully Wisnubroto pun mengungkap hal serupa. Menurutnya, di tengah ketidakpastian pasar, BI perlu mengambil stance kebijakan pro-growth. Artinya, kebijakan moneter yang lebih longgar untuk memberikan stimulus ekonomi.

“BI harus tetap membuka kemungkinan akan penurunan suku bunga di bulan Ramadan ataupun di kuartal II, yang biasanya tidak lazim dilakukan karena efek inflasi dan peningkatan permintaan valas secara musiman. Hal ini dilakukan untuk mendorong optimisme terhadap prospek pertumbuhan Indonesia,” ujar Rully dalam Mirae Asset Market Commentary, Jumat (28/2/2025).

Baca Juga: Efek Ekonomi AS, Bank Sentral Pertahankan BI Rate 5,75%

Rupiah Dalam Bahaya, Potensi Tembus 17.000

Di lain sisi, nilai tukar Rupiah masih melanjutkan tren pelemahannya. Pengamat Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi mengungkap hal tersebut imbas dari kebijakan tarif dagang Amerika Serikat yang disebut akan diterapkan dalam waktu dekat.

Ibrahim bilang, kabarnya Trump akan mengenakan tarif dagang pada Kanada dan Meksiko, Selasa (4/3/2025).

“Sehingga banyak investor yang melakukan taking profit, mereka menyiapkan dana cash. Kenapa menyiapkan dana cash? Karena pasti akan jatuh terus. Ada ketakutan bahwa perlambatan ekonomi global itu akan terjadi,” kata Ibrahim kepada Fakta.com, Jumat (28/2/2025).

Ibrahim mengungkap, dengan tingkat suku bunga saat ini saja, sulit untuk meredam laju pelemahan Rupiah. Apalagi, ekspektasi penurunan Fed Fund Rate (FFR) semakin kecil, mengikuti prospek inflasi yang diperkirakan akan meningkat pula.


Benar saja, data menunjukkan Rupiah masih penuh tekanan. Per hari ini, nilai kurs Rupiah berada di level Rp 16.575.

“Akibat perang dagang sepertinya mata uang Rupiah bisa menyentuh level Rp 17.000,” pungkas Ibrahim.

Bagikan:
pelemahan rupiahbank indonesiakurs JISDOR Bank Indonesiaihsg
Loading...
ADS

Update News

Trending