Fakta.com
    !
FOCUS
FOCUS
Fakta.com
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
Fakta
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
Interactive
Games
Video
Log In
  1. Home
  2. data
  3. Jumlah Kelas Menengah Terus Tu...

Jumlah Kelas Menengah Terus Turun, Apa Kabar Indonesia Emas 2045?

Ilustrasi - Penurunan kelas menengah jadi tantangan wujudkan Indonesia Emas 2045. (Fakta.com/Putut Pramudiko)

Ilustrasi - Penurunan kelas menengah jadi tantangan wujudkan Indonesia Emas 2045. (Fakta.com/Putut Pramudiko)

Google News Image

FAKTA.COM, Jakarta – Penurunan jumlah kelas menengah di Indonesia menjadi tantangan dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Pasalnya, kelas menengah yang berkurang dapat berdampak pada daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi. 

Wakil Menteri Keuangan, Thomas A. M. Djiwandono akui terjadi penurunan kelas menengah di Tanah Air. Fakta tersebut disampaikan dalam acara "IDE Katadata 2025: Data for Growth" di Hotel St. Regis, Jakarta, Selasa (18/2/2025).

Seperti diketahui, dalam beberapa tahun terakhir, data menunjukkan adanya penurunan kelas menengah yang signifikan. Tahun lalu saja, jumlah kelas menengah Indonesia berada di kisaran 17,13 persen. Padahal, lima tahun sebelumnya, angkanya sebesar 21,45 persen.


Meski begitu, Thomas tetap optimis. Alasannya, resiliensi Indonesia masih lebih baik jika dibandingkan dengan negara lain.

Dia pun mengakui bahwa sampai saat ini, kelas menengah masih menjadi tulang punggung perekonomian Tanah Air. Oleh sebab itu, pihaknya terus berupaya untuk memberikan insentif guna menstimulasi konsumsi rumah tangga, terutama kelas menengah.

“Pemerintah telah merespons dengan kebijakan fiskal yang terarah, subsidi, dan insentif guna meringankan dampak tersebut, memastikan inklusi ekonomi tetap terjaga sambil tetap mempertahankan disiplin fiskal,” sebut Wamenkeu.

Wakil Menteri Keuangan, Thomas A. M. Djiwandono. (Dok. Biro KLI Kemenkeu/Wismu Nanda R.R.)

Wakil Menteri Keuangan, Thomas A. M. Djiwandono. (Dok. Biro KLI Kemenkeu/Wismu Nanda R.R.)

Lebih rinci, Thomas menyampaikan bahwa untuk menjaga kelas menengah dari guncangan ekonomi, pihaknya telah menggelontorkan sejumlah anggaran tahun ini melalui beberapa instrumen,seperti program subsidi, insentif PPN, bantuan sosial, kredit usaha rakyat, dan sebagainya.

Adapun total anggaran yang dikeluarkan untuk sejumlah stimulus tersebut sebesar Rp827 triliun yang diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat.

Baca Juga: Pak Prabowo, Ini Saran untuk Atasi Penurunan Daya Beli Kelas Menengah

Jumlah Kelas Menengah Indikator Keberhasilan Akselerasi Ekonomi

Seperti diketahui, dalam rangka menjadi negara maju pada 2045, Indonesia perlu mengakselerasi pertumbuhan ekonominya di angka 6-8 persen. Dalam hal ini, jumlah kelas menengah menjadi salah satu indikator yang dicatat pula.

“Ini mencerminkan komitmen pemerintah dan bangsa terhadap pertumbuhan inklusif dan pembangunan yang berkeadilan, pencapaian visi ini akan menempatkan Indonesia sebagai ekonomi terbesar keempat di dunia,” tutur Thomas.

Thomas menjelaskan, untuk memastikan tercapainya pembangunan yang inklusif tersebut, pemerintah akan berfokus pada transformasi ekonomi melalui pengembangan sumber daya manusia melalui peningkatan layanan pendidikan, pencapaian kemandirian pangan, dan hilirisasi energi.

Bagikan:
kelas menengahthomas djiwandonokemenkeuinsentif PPN
Loading...
ADS

Update News

Trending