Realokasi Anggaran ke Bidang Pertanian, Sudah Efisien?

Ilustrasi. (Putut Pramudiko/Fakta.com)
FAKTA.COM, Jakarta – Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Kartika “Tiko” Wirjoatmodjo menyampaikan bahwa relokasi anggaran hasil kebijakan efisiensi akan difokuskan pada program prioritas pemerintah. Salah satunya adalah bidang pangan. Hal tersebut disampaikannya ketika ditemui awak media dalam "Mandiri Investment Outlook" di hotel Fairmont Jakarta, Selasa (11/2/2025).
Menurutnya, hal tersebut dapat menjadi strategi untuk mendongkrak daya beli dan konsumsi masyarakat. Tiko juga bilang, bahwa pemerintah perlu memastikan investor mengerti bahwa fokus pemerintah ada di bidang agrikultur, berbeda dengan tahun lalu yang lebih condong di infrastruktur.
“Jadi seharusnya ini menjadi satu strategi baru dan tentu kita harus meng-engage investor untuk paham bahwa strateginya memang sekarang difokuskan pada beberapa area utama. Tentu terutama di pangan, dalam konteks ini langsung ada produksi beras, kemudian makan bergizi gratis, dan sebagainya,” tutur Tiko.

Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Kartika Wirjoatmodjo dalam "Mandiri Investment Outlook" di hotel Fairmont Jakarta, Selasa (11/2/2025). (Fakta.com/Muhammad Azka Syafrizal)
Namun, apakah realokasi efisiensi anggaran ke sektor pertanian efektif untuk mengakselerasi perekonomian?
Sebelumnya, dalam sebuah diskusi secara daring, Jumat (6/2/2025), Wakil Direktur Pengembangan Big Data INDEF, Eko Listiyanto menyebutkan bahwa tidak cukup untuk mengakselerasi perekonomian jika hasil efisiensi anggaran hanya dialokasikan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurutnya, hasil efisiensi anggaran perlu dialokasikan pada sektor yang menyerap banyak tenaga kerja.
“Poin pentingnya adalah, pastikan multiplier effect-nya itu lebih besar dibandingkan hanya sekadar untuk membiayai perjalanan dinas yang sifatnya enabler,” pungkas Eko.
Dalam kesempatan yang sama, Ekonom INDEF, Riza Annisa Pujarama menyampaikan bahwa sektor yang perlu mendapatkan insentif tambahan dari realokasi efisiensi anggaran adalah sektor yang memiliki share terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) besar. Selain itu, menyerap banyak tenaga kerja sehingga nanti, ada peningkatan produktivitas dan multiplier effect terhadap perekonomian.
“Sektor yang pertama itu adalah pertanian, karena di situ tenaga kerja banyak terserap. Sampai saat ini pertanian masih juaranya. Pertanian itu share-nya juga masuk lima besar ya terhadap PDB,” jelas Riza.
Sejalan dengan pernyataan Riza, data memang menunjukkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, pertanian menjadi salah satu sektor yang kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) cukup besar. Bahkan, tingkat share-nya konsisten menyentuh dua digit di kisaran 12-13 persen dalam lima tahun terakhir. Sepanjang tahun lalu saja, sektor pertanian termasuk dalam lima sektor dengan share terhadap PDB terbesar di Indonesia.
Begitu juga dengan serapan tenaga kerjanya, data terbaru yang dirilis Badan Pusat Statistik, pertanian masih menjadi sektor yang menyerap tenaga kerja paling banyak di Tanah Air. Per Agustus 2024 saja, jumlah tenaga kerja di sektor pertanian mencapai 40,76 juta orang atau sekitar 28,18 persen dari total tenaga kerja di Indonesia.
Mengingat bahwa pertanian adalah sektor yang menyerap banyak tenaga kerja dan memiliki share cukup besar terhadap PDB, maka INDEF menyarankan bahwa sektor pertanian bisa menjadi salah satu tujuan realokasi efisiensi anggaran.
Ternyata, pemerintah pun memiliki pandangan serupa. Menurut Tiko, fokus pemerintah saat ini memang membangun sektor pertanian.
“Berbeda kalau dulu kita fokus infrastruktur dan sudah cukup maju dalam tol, airport, dan port. Sekarang kita memajukan sektor agriculture,” tegas Tiko.













