Fakta.com
    !
FOCUS
FOCUS
Fakta.com
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
Fakta
Politik
Politik
Update
Update
Hukum
Hukum
Daerah
Daerah
Ekonomi
Ekonomi
Pangea
Pangea
Teknologi
Teknologi
Humaniora
Humaniora
Memoar
Memoar
Data
Data
Infografik
Infografik
Tematik
Tematik
Program
Program
Survey
Survey
Flash Video
Chicken Skin
Paradox
Roots
Ytta
Spotlight
  • ●

    Tentang Kami
  • ●

    Redaksi
  • ●

    Pedoman Media Siber
  • ●

    Kode Etik Jurnalistik
  • ●

    Terms of Service
  • ●

    Disclaimer
  • ●

    Kerjasama
  • ●

    Bergabung di Fakta?
Interactive
Games
Video
Log In
  1. Home
  2. data
  3. Data Perbandingan Karhutla 201...

Data Perbandingan Karhutla 2015 dan 2023 yang Disebut Jokowi

Karhutla Monitoring Sistem. (Tangkapan layar Sipongi KLHK)

Karhutla Monitoring Sistem. (Tangkapan layar Sipongi KLHK)

Google News Image

FAKTA.COM, Jakarta - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memperkuat pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait perbandingan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla pada 2015 dan tahun ini. Menurut KLHK, penanganan karhutla di Indonesia dari tahun ke tahun semakin baik.

Lantas, apa faktor pendukung pernyataan itu?

Mengutip keterangan KLHK, Sabtu (7/10/2023), perbaikan penanganan karhutla bisa dilihat dari indikasi luas areal yang terbakar, jumlah hotspot dan data citra sebaran asap. Berikut adalah data berdasarkan Sipongi KLHK:

KLHK juga memperkuat pernyataan Jokowi dengan melihat jumlah hotpost berdasarkan pantauan satelit Terra/Aqua Nasa confident level >80%.

Selain itu, KLHK menyebut, data citra sebaran asap, pada 2015 sempat terjadi asap lintas batas selama 20 hari. Kemudian, pada tahun 2019 menurut pantauan ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) diduga terjadi asap lintas batas namun menurut pantauan BMKG tidak terjadi.

"Berdasarkan pantuan ASMC hingga 7 Oktober 2023 pukul 07.00 WIB dan satelit Himawari dari BMKG pada 7 Oktober 2023 pukul 10.00 WIB bahwa tidak terdeteksi asap lintas batas," ujar Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim KLHK, Lhaksmi Dhewanti.

Jokowi Minta Penanganan Karhutla ke Panglima TNI, Kapolri, dan Pemda

Lebih lanjut Lhaksmi menjelaskan bahwa disamping data yang bersumber dari BMKG, KLHK juga menggunakan ASMC sebagai sandingan citra peta sebaran asap. Dia menilai,ASMC merupakan program kolaborasi regional diantara negara-negara anggota ASEAN.

ASMC diselenggarakan di bawah Layanan Meteorologi Singapura, National Environment Agency of Singapore. "ASMC telah menjadi data rujukan yang digunakan seluruh anggota ASEAN, dan Indonesia menggunakan data ASMC dan Himawari BMKG dalam memonitor transboundary haze polution/polusi asap lintas batas dan telah konsisten dilakukan sejak 2015 hingga saat ini," kata Lhaksmi menambahkan.

POINTER: Berjibaku Atasi Karhutla dan Jerubu

Sebelumnya, Presiden meyakini bahwa pengendalian karhutla saat ini sangat baik jika dibandingkan dengan kebakaran hutan tahun 2015 lalu. "Kita di sini masih bisa mengendalikan dengan baik. Coba bandingkan dengan yang 2015 masih jauh sekali," kata dia menambahkan.

"Tetapi memang yang namanya kebakaran pasti ngeluarin asap dan asapnya itu kalau kena angin bisa kemana-mana," ucap Jokowi.

Bagikan:
karhutlapresiden joko widodoklhk
Loading...
ADS

Update News

Trending