Ekonomi Tiongkok Terseok-seok, Gara-gara Properti?

Kota Beijing, Foto: Freepik
FAKTA.COM, Jakarta - Ekonomi Tiongkok sedang terseok-seok. Pelemahan terjadi di berbagai lini, bahkan hingga daya beli.
Menteri Keuangan, Sri Mulyani, mengungkap bahwa Indonesia perlu terus mencermati perkembangan ekonomi Tiongkok. Sebab, Tiongkok merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia.
Ia pun mencoba mengelaborasi penyebab utama pelemahan ekonomi Negeri Tirai Bambu itu dalam Konferensi Pers APBN KITA Edisi Desember, Rabu (11/12/2024).
“Masalah struktural dalam negeri Republik Rakyat Tiongkok (RRT) adalah satu, sektor propertinya kalau kita lihat di sini, pembangunan dan penjualannya semuanya masih dalam zona negatif, ini sudah terjadi sejak tahun 2023,” ujar Sri Mulyani.
Menurut Sri Mulyani, perlambatan pada sektor properti akan sangat mempengaruhi perekonomian Tiongkok. Karena, biasanya sektor tersebut merupakan mesin pertumbuhan utama ekonomi Tiongkok.
Di samping itu, Tiongkok juga tengah menghadapi persoalan hidden local government debt. Masalah ini juga masih berkaitan dengan sektor properti.
Sri Mulyani menambahkan, dalam membangun properti, Tiongkok seringkali menggunakan tanah yang dikuasai oleh pemerintah daerah.
“Ini telah menimbulkan dampak fiskal daerah di RRT dalam bentuk akumulasi utang dari pemerintah daerah,” ujar Sri Mulyani.
Dua permasalahan utama tersebut, kata Sri Mulyani, merupakan biang kerok mengapa daya beli masyarakat Tiongkok menjadi terseok.
Stimulus Belum Berbuah Mulus
Pemerintah Tiongkok bukannya diam saja di tengah kondisi ekonomi yang merana. Mereka sudah memberikan banyak stimulus, baik itu fiskal maupun moneter.
Di sisi fiskal, pemerintah Tiongkok sudah menggelontorkan dana sebesar 10 triliun Yuan yang difokuskan untuk menyelesaikan persoalan hidden local government debt.
Sementara itu, dari sisi moneter, bank sentral Tiongkok juga sudah melakukan pemotongan suku bunga, kemudahan pinjaman, dan bantuan pembiayaan untuk perbankan.
“Namun dampak untuk bisa mengatasi secara memadai belum terlihat,” jelas Sri Mulyani.
Ke depan, kondisi bisa saja semakin buruk dengan adanya ancaman restriksi dagang dari Amerika Serikat. Apalagi, AS bakal dipimpin kembali oleh Donald Trump setelah menang di Pilpres 2024.
Di kesempatan lain, Ekonom Bank DBS Maynard Arif, mengatakan bahwa jika kondisi ekonomi Tiongkok semakin memburuk, maka Indonesia juga akan terdampak.
“Kalau Tiongkok pertumbuhan ekonominya melemah itu juga akan berdampak ke Indonesia terutama dari sektor komoditas,” ujar Maynard dalam Group Interview 2025 Economic Outlook bersama Bank DBS Indonesia, Rabu (11/12/2024).
Meski begitu, Maynard bilang masih ada kesempatan yang bisa menguntungkan Indonesia. Dengan tingginya tarif dagang AS ke Tiongkok, Indonesia bisa mengambil pangsa pasar Tiongkok di AS. Di luar itu, dengan tingginya tarif dagang dari AS, Maynard bilang pasti akan ada perpindahan produksi.
“Karena dengan tarif yang tinggi tentunya pasti akan ada perpindahan dari sisi produksi ke negara yang mungkin tidak terkena tarif dan bagaimana Indonesia bisa mengambil kesempatan. Ini akan menjadi sangat relevan,” jelas Maynard.













