Sektor Properti Kurang Bergairah, Apa Penyebabnya?

Ilustrasi
FAKTA.COM, Jakarta - Data terbaru menunjukkan kelesuan terjadi pada sektor properti di Tanah Air. Berdasarkan hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia, penjualan properti residensial di pasar primer pada Kuartal III 2024 terkontraksi sebesar 7,14 persen year-on-year (yoy).
Apa penyebabnya? Menurut Dewan Kehormatan Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI), Lukas Bong, banyak hal yang menjadi faktor penyebabnya.
“Banyak faktor sebenarnya, termasuk isu politik, ekonomi, suku bunga bank, dan antisipasi kenaikan pajak (PPN) 12 persen,” kata Lukas kepada Fakta.com, Senin (2/12/2024).
Terlebih, kualitas keuangan konsumen, kata Lukas sedang tidak bagus. Sejalan dengan pelemahan daya beli masyarakat yang ditunjukkan dengan lambatnya pertumbuhan konsumsi Indonesia dalam beberapa kuartal terakhir. Di lain sisi, harga properti terus mengalami peningkatan.
Dalam lima tahun terakhir, harga properti untuk semua kategori terus mengalami peningkatan. Menurut Lukas, hal ini juga turut memberikan andil atas lesunya penjualan properti di pasar primer. Ia menambahkan, peningkatan tersebut membuat masyarakat semakin sulit membeli properti.
“Ya, harga semakin tidak terjangkau,” ujar Lukas.
Lukas mengatakan, ada beberapa inisiatif kebijakan yang dapat dilakukan pemerintah untuk kembali mengakselerasi sektor properti.
Di antaranya, membuat suku bunga bank lebih menarik, perpanjangan program PPN DTP (PPN ditanggung pemerintah) untuk perumahan, dan mempermudah izin pembangunan perumahan agar tidak menjadi beban konsumen.
Seperti diketahui, berdasarkan rilis APBN KITA (Kinerja dan Fakta) edisi November 2024, realisasi program PPN DTP untuk perumahan telah mencapai 31,6 ribu rumah sampai dengan bulan Oktober tahun ini.
“Kita memperkirakan sampai akhir tahun ini bisa mencapai 54.000 unit rumah,” ujar Kepala Badan Kajian Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu.
Kemudian, soal bunga kredit yang disinggung oleh Lukas, data dari Bank Indonesia menunjukkan hal serupa. Berdasarkan data di atas, dapat dilihat bahwa laju pertumbuhan kredit ke sektor properti tengah dalam perlambatannya.
Sampai dengan akhir kuartal III, yakni bulan September, maka laju pertumbuhan kredit sektor properti cenderung melambat. Adapun angka pertumbuhannya sebesar 7,6 persen. Ini lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan di bulan sebelumnya, yakni 8 persen.













