Return Obligasi Tinggi, Beban Utang Naik Lagi

Ilustrasi: Fakta.com/Putut Pramudiko
FAKTA.COM, Jakarta - Penarikan utang adalah sesuatu yang wajar dilakukan oleh sebuah negara. Sebab, hal tersebut terkadang dibutuhkan untuk membiayai pembangunan. Namun, bagaimana kalau pembayaran utang tersebut justru semakin membebani anggaran negara?
Peneliti INDEF, Riza Annisa, mengungkapkan belanja yang dialokasikan Indonesia untuk membayar bunga utang kian membesar persentasenya terhadap belanja pemerintah pusat. Hal tersebut disampaikannya dalam diskusi publik bertajuk "Ambisi Pertumbuhan Ekonomi 8% Realistiskah?" secara daring, Senin (18/11/2024).
Di lain sisi, belanja modal persentasenya terus menurun. Riza bilang, hal ini mengindikasikan semakin menyusutnya kapasitas fiskal untuk belanja produktif.
“Kapasitas fiskal kita semakin menyusut, di sini belanja produktif semakin menyusut, belanja modal hanya 7,08%,” ujar Riza.
Informasi saja, Per Oktober tahun ini, jumlah utang Indonesia sudah mencapai Rp 8.473,9 triliun. Atas catatan tersebut, rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia berada di angka 38,55%.
Jika merujuk kepada ketentuan dalam undang-undang, maka rasio tersebut masih dibawah batas yang ditentukan, yakni 60% terhadap PDB. Namun, Riza bilang melihat risiko utang tidak hanya dari rasio terhadap PDB-nya saja.
“Hal yang perlu diperhatikan adalah pembayaran bunga. Jadi, ketika penarikan utang terus dilakukan, semakin tinggi utang, semakin tinggi juga beban utang terhadap fiskal,” jelas Riza.
Menurut Riza, hal tersebut tercermin dari semakin tergerusnya belanja produktif karena alokasi belanja bunga utang porsinya semakin membesar.
Dalam hal ini, Riza menambahkan, salah satu penyebabnya adalah suku bunga obligasi Indonesia yang relatif tinggi dibandingkan dengan negara-negara lain.
“Bisa kita lihat bahwa bunga utang kita tuh sangat besar makanya membebani fiskal kita,” ujar Riza. Terlebih, utang Indonesia didominasi oleh Surat Berharga Negara (SBN).
Terbaru, per Oktober tahun ini, realisasi pembiayaan utang dicatatkan sebesar Rp 438,1 triliun. Dari catatan tersebut, sebesar Rp 394,9 triliun merupakan SBN.
Belum lama ini, Ekonom Bright Institute, Muhammad Andri Perdana juga mengungkap hal serupa soal tingginya suku bunga obligasi Indonesia.
“Kalau dari segi return (obligasi), Indonesia itu sangat dermawan sekali,” kata Andri kepada Fakta.com, belum lama.
Andri menyoroti soal tingginya suku bunga obligasi Indonesia dibandingkan dengan beberapa negara berkembang lain. Padahal, rating kredit Indonesia masih lebih baik. Menurut Andri, seharusnya dengan rating kredit yang baik, bisa memberikan suku bunga yang lebih rendah.
“Karena risiko kita seharusnya lebih rendah, tapi kita memberikan return yang lebih tinggi,” ujar Andri.














