Langkah Jitu Membawa Indonesia Menjadi Negara Maju

Ilustrasi. (Dokumen Kemenkeu)
FAKTA.COM, Jakarta - Untuk bertransformasi menjadi negara maju, Prabowo Subianto canangkan target pertumbuhan ekonomi hingga 8%. Namun, Indonesia dihadapkan tantangan besar.
Salah satu tantangan tersebut adalah perekonomian Indonesia diindikasikan masih sangat bergantung dengan faktor musiman.
Seperti diketahui, pertumbuhan ekonomi triwulan III-2024 berada di level 4,95%. Angka tersebut melambat dibandingkan triwulan I dan triwulan II yang masing-masing tercatat pada 5,11% dan 5,05%.
Berakhirnya faktor musiman, seperti liburan dan hari besar keagamaan dinilai menjadi faktor penyebab perlambatan tersebut.
Sebab, tanpa adanya faktor musiman tersebut, pertumbuhan konsumsi rumah tangga triwulan III melambat tipis, kini angkanya 4,91%, menurun dari triwulan sebelumnya di angka 4,93%. Terlebih, konsumsi rumah tangga adalah kontributor terbesar Produk Domestik Bruto (PDB) triwulan III, yakni sebesar 53,08%.
Lantas, untuk terlepas dari ketergantungan faktor musiman tersebut, sektor apa yang perlu didorong lebih kuat?
Peneliti Celios, Achmad Hanif Imaduddin mengatakan, sektor yang perlu didorong lebih kuat adalah industri manufaktur. Meskipun selama ini industri pengolahan atau manufaktur konsisten menjadi kontributor pertumbuhan ekonomi terbesar, jumlahnya masih perlu digenjot lagi.
Hanif menjadikan Korea Selatan dan Vietnam sebagai contoh, dua negara ini usianya tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Akan tetapi, akselerasi pertumbuhan ekonominya jauh lebih cepat.
“Itu kalau kita lihat di mereka, mereka juga lebih dominan di industri manufaktur,” kata Hanif kepada Fakta.com, Selasa (5/11/2024).
Adapun berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik, Selasa (5/11/2024) tentang pertumbuhan ekonomi triwulan III-2024, kontribusi sektor manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berada di angka 19,02%.
Kendati jumlahnya lebih besar dibandingkan dengan triwulan III tahun lalu, yakni 18,75%. Hanif bilang angka tersebut belum cukup untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi.
“Kalau hasil diskusi di Celios itu beberapa memungkinkan kita bisa mencapai 8% (pertumbuhan ekonomi), kalau industri manufaktur ini bisa berkontribusi kira-kira di angka 25% ke atas,” ujar Hanif.
Adapun sebenarnya, Hanif bilang bahwa revitalisasi sektor manufaktur dengan penguatan sektor jasa dapat dilakukan beriringan. Sebab, negara lain seperti Amerika Serikat dan Tiongkok bisa melakukan hal tersebut.
Namun, Indonesia masih dihadapkan dengan beberapa tantangan, misalnya soal kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM).
“Jadi untuk di semua contoh di sektor jasa untuk beberapa tingkat yang levelnya sudah experienced higher. Mau gak mau pasti bakal impor tenaga kerja asing yang punya kapabilitas lebih tinggi,” tutur Hanif.
Hal serupa diungkapkan oleh Peneliti Next Policy, Shofie Azzahrah. Menurutnya, negara maju biasanya memiliki basis ekspor yang kuat dan beragam, mencakup produk yang bernilai tambah tinggi.
“Indonesia dapat meningkatkan ekspornya dengan memperkuat sektor manufaktur dan mengurangi ketergantungan pada ekspor komoditas mentah,” kata Shofie kepada Fakta.com, Selasa (5/11/2024).
Soal pengembangan sektor jasa, Shofie juga sependapat dengan Hanif. Ia bilang, salah satu tantangannya adalah kapabilitas sumber daya manusia untuk mengakomodir sektor jasa.
“Di negara-negara maju, sektor jasa yang berkembang pesat seperti teknologi informasi, jasa keuangan, dan jasa profesional lain bergantung pada tenaga kerja yang memiliki keterampilan tinggi, kreativitas, serta adaptabilitas dalam inovasi,” tutur Shofie.
Ia melanjutkan, dengan rata-rata tingkat pendidikan yang masih rendah, tenaga kerja Indonesia belum memiliki kesiapan yang optimal untuk memenuhi kebutuhan sektor jasa berteknologi tinggi dan kompleks tersebut.
“Sebaliknya, dengan kondisi demografi Indonesia yang memiliki jumlah tenaga kerja muda yang besar dan biaya tenaga kerja yang relatif lebih rendah, membuat sektor manufaktur lebih berpotensi menjadi motor pertumbuhan ekonomi yang kuat,” ucap Shofie.
Terlebih, menurut Shofie, industri manufaktur menawarkan berbagai jenis pekerjaan dengan tingkat keterampilan yang lebih bervariasi, sehingga dapat menyerap tenaga kerja yang lebih luas dari beragam latar belakang pendidikan.
“Sektor ini juga memiliki dampak berantai yang besar karena melibatkan rantai pasokan yang panjang, mulai dari bahan baku hingga produk akhir, dan menciptakan banyak lapangan pekerjaan,” pungkas Shofie.













