Utang Luar Negeri Terbang Tinggi

Ilustrasi utang luar negeri terbang tinggi. (Dokumen Fakta.com/Putut Pramudiko)
FAKTA.COM, Jakarta - Utang luar negeri (ULN) Indonesia masih dalam tren naik. Per Juli 2024 angkanya terbang tinggi mencapai US$414,33 miliar.
Menurut keterangan Bank Indonesia, nilai tersebut tumbuh 4,1% secara tahunan. "Perkembangan ULN tersebut bersumber dari sektor publik, baik Pemerintah maupun Bank Sentral," kata Asisten Gubernur Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Erwin Haryono, Kamis (19/9/2024).
Menurut Erwin, posisi ULN pada Juli 2024 juga dipengaruhi oleh faktor pelemahan mata uang dolar AS terhadap mayoritas mata uang global, termasuk Rupiah.
Lebih rinci, ULN Juli 2024 terdiri dari utang pemerintah US$194,3 miliar, utang swasta US$195,2 miliar, dan utang bank sentral US$24,8 miliar.
Terlepas dari pernyataan Erwin, catatan ULN Juli 2024 ini menjadi yang tertinggi di tahun ini sekaligus nilai tertinggi sejak Februari 2022. Saat itu, nilainya US$415,43 miliar.
Dari data di atas, dalam 10 tahun terakhir atau sejak 2014, pertumbuhan jumlah ULN tertinggi datang dari bank sentral. Angkanya mencapai 318,55% dari posisi akhir 2014 US$5,93 miliar.
Kondisi berbeda dengan ULN swasta yang pertumbuhannya lebih lambat atau hanya naik 36,95%. Sementara, ULN pemerintah dalam 10 tahun ini bertumbuh 56,91%.
Ekonom Bright Institute, Awalil Rizky menjelaskan, ULN dengan Utang Pemerintah (UP) berbeda definisi, namun beririsan. "ULN terdiri dari ULN Pemerintah dan BI serta ULN Swasta. UP ada yang UP ULN dan ada yang UP utang dalam negeri," kata Awalil kepada Fakta.com.
Lebih lanjut, Awalil menerangkan, pengertian ULN menyangkut krediturnya, bukan mata uang. Dia mengatakan, sebagian ULN Pemerintah merupakan SBN rupiah yang dimiliki asing, serta SBN dalam valuta asing.
Adapun ULN yang meningkat signifikan pada Juli dibanding Juni 2024 terutama karena peningkatan SBN yang dimiliki asing, baik dari penerbitan SBN valas maupun SBN rupiah yang neto beli.
"Juga tambahan ULN bank Indonesia, dari Surat Berharga Rupiah (SRBI) yang dibeli asing. Bulan Juli, pembelian SBN oleh asing meningkat, setelah dari januari hingga juni cenderung net jual," tutur dia.
Awalil pun menuturkan, untuk jumlah ULN hingga Juli 2024 belum mengakibatkan peningkatan risiko secara berarti, atau masih setara dengan triwulan sebelumnya.
Meski begitu, Erwin menegaskan, struktur ULN Indonesia tetap sehat, didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya.
Hal ini tecermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang terjaga sebesar 30,2%, serta didominasi oleh ULN jangka panjang dengan pangsa mencapai 84,9% dari total ULN.














